SURABAYA - Melihat kekalahan telak JK-Win versi quick count termasuk di Jawa Timur, Tim Pemenangan JK-Wiranto Jatim langsung menggelar rapat kordinasi di Kantor DPD Partai Golkar Jatim Jalan Ahmad Yani. Ketua Tim Pemenangan JK-Wiranto Gatot Sudjito setelah dilakukan evaluasi, tim memperkirakan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kekalahan telak JK-Wiranto khususnya di Jawa Timur.Salah satunya adalah penggembosan dari dalam internal partai sendiri.
"Memang ada tokoh-tokoh Golkar yang berusaha menggembosi. Semua akan kita jadikan bahan evaluasi untuk ke depan," katanya Kamis tadi (9/7/2009).
Gatot menambahkan paling tidak pengaruh-pengaruh tokoh-tokoh yang berseberangan dengan JK akan berdampak sampai ke daerah terutama Akbar Tanjung (AT).
Ini dibuktikan dengan konsolidasi yang dilakukan beberapa pengurus DPD kabupaten/kota sebelum Pilpres yang lebih menginginkan AT sebagai capres daripada JK. Selain faktor tidak satu suaranya kader Partai Golkar, Gatot menilai JK maupun Wiranto kurang menjadi figur sentral di basis massa.
"Sosok ketua umum partai baik JK maupun Wiranto kurang bisa menjadi figur sentral," katanya.
Bagaimana dengan dukungan dari PKNU dan organisasi keagamaan terutama NU? Gatot mengakui jika ada realitas politik yang tidak selamanya bisa diprediksi di atas kertas. Dia mengakui dukungan para kyai NU tidak mengakar sampai ke basis massa NU.
"Dukungan formal dari kiai-kiai memang tidak bisa dijadikan jaminan. Apa yang jadi pilihan kiai tidak otomatis diikuti massa di bawah," jelasnya. Minimnya dana operasional pemenangan JK-Wiranto juga dijadikan alasan.
"Dana operasional memang penting. Dana yang dikucurkan memang relatif kecil," katanya.
Dia mengungkapkan dana operasional pemenangan di tingkat kabupaten/kota hanya Rp50 juta. "Kalau tingkat provinsi rata-rata Rp100 juta tapi kalau provinsinya besar seperti Jatim bisa lebih. Jatim mendapat sekitar Rp200 juta," ungkapnya.
Gatot juga mengungkapkan beberapa faktor eksternal yang dituding jadi penyebab tidak maksimalnya pelaksanaan pemilu secara jujur dan adil.
"Misalnya karena masalah DPT. Saya istilahkan DPT itu dibongkar pasang. Ada yang sebelumnya sudah masuk dalam DPS tapi dalam DPT malah nggak ada. Seharusnya khan yang datanya memang sudah benar tidak diubah lagi," terangnya.
Selain persoalan DPT, Tim JK-Win juga menuding sosialisasi KPU atas keputusan MK tentang dibolehkannya penggunaan KTP dan Paspor dengan sekian syarat tidak maksimal karena mepetnya waktu. "Kami juga melihat kebanyakan petugas penyelenggara di bawah komposisinya tetap dan berpihak pada salah satu pasangan," paparnya. Gatot menilai ada upaya sistematis yang menguntungkan calon incumbent.
Berbeda dengan Gatot, Sekretaris Tim Pemenangan JK-Win Jatim M Muchtar menilai upaya penggembosan suara dari internal partai sendiri tidak terlihat di lapangan.
"Memang biasa ada faksi-faksi tapi selama pelaksanaan Pilpres kemarin kami tidak merasakan ada upaya penggembosan. Saya juga tidak mendapat laporan dari bawah jika ada yang menggembosi," tutur Sekretaris DPD Partai Golkar Jatim ini.
Muchtar mengatakan waktu pencalonan dan persiapan pemenangan yang dimiliki JK-Win relatif pendek. Dia juga mengakui dana yang sangat minim. "Turunnya dana juga baru sekitar H-10 sebelum Pilpres. Dana yang dimiliki juga terbatas," katanya. Dia juga mengakui tidak maksimalnya dukungan para ulama NU. "Kami sudah maksimal merebut kantong-kantong NU tapi ternyata hasilnya seperti ini," ujarnya. (fit)
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad


