Profile Kandidat


Megawati Soekarnoputri

megawati
Megawati Soekarnoputri (daylife.com)

Jalan Terjal Mega Menuju Istana Negara

JAKARTA - Menjadi anak proklamator tidak serta merta membuat karir politik Megawati Soekarnoputri berjalan mulus. Wanita kelahiran Yogyakarta 62 tahun silam itu harus jatuh bangun untuk menggapai kursi RI 1 pada tahun 2000.

Jalan terjal serta berbagai macam cobaan senantiasa mendominasi setiap langkah Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri sebelum era reformasi. Sejak kejatuhan ayahnya dari kursi kepresidenan, kehidupan Mega tak pernah lepas dari pengawasan pemerintah orde baru.

Karir politik Mega yang diawali pada 1986 itu pun harus dilalui dengan berdarah-darah. Awalnya semua berjalan lancar. Anak kedua Bung Karno itu dipercaya sebagai Wakil Ketua PDI cabang Jakarta Pusat dan semua tugasnya bisa diselesaikan dengan sempurna. Bahkan Mega hanya butuh waktu satu tahun untuk masuk ke Senayan. Selang beberapa tahun kemudian, dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya pada 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI.

Sayangnya, pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Mega pun tidak menerima pendongkelan dirinya dan tidak mengakui Kongres Medan. Ia masih merasa sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor dan perlengkapannya pun dikuasai pihak Mega. Kendati demikian, ibu dari Puan Maharani itu tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor pusat PDI. Namun, Soerjadi yang didukung pemerintah memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI yang terletak di Jalan Diponegoro.

Ancaman Soerjadi kemudian menjadi kenyataan. Tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor pusat PDI dari pendukung Mega. Aksi penyerangan yang menyebabkan puluhan pendukung Mega meninggal itu, berbuntut pada kerusuhan massal di Jakarta yang dikenal dengan nama Peristiwa 27 Juli.

Peristiwa penyerangan kantor pusat PDI tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, ia makin mantap mengibarkan perlawanan. Ia memilih jalur hukum, walaupun kemudian kandas di pengadilan. Mega tetap tidak berhenti. Tak pelak, PDI pun terbelah dua: PDI di bawah Soerjadi dan PDI pimpinan Mega. Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah.

Keberpihakan massa PDI kepada Mega makin terlihat pada pemilu 1997. Perolehan suara PDI di bawah Soerjadi merosot tajam. Sebagian massa Mega berpihak ke Partai Persatuan Pembangunan, yang kemudian melahirkan istilah Mega Bintang. Mega sendiri memilih golput saat itu.

Bintang Megawati baru terlihat bersinar cemerlang pada Pemilu 1999. PDI Mega yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan berhasil memenangkan pemilu. Massa PDIP memaksa supaya Mega menjadi presiden. Mereka mengancam, kalau Mega tidak jadi presiden akan terjadi revolusi.

Namun cobaan kembali menerpa Megawati, Sidang Umum MPR tahun 1999 memilih KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Mega kalah tipis dalam voting pemilihan Presiden: 373 banding 313 suara.

Kekecewaan Mega akhirnya sedikit terobati karena mencabut mandat kepada Gus Dur sebagai presiden. Sidang Istimewa MPR pada Senin, 23 Juli 2001, telah menaikkan status Megawati dari Wapres menjadi Presiden.

Sayangnya pada Pilpres 2004 Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi kalah dari SBY-JK dalam putaran kedua. Kini setelah lima tahun berlalu, Mega kembali menantang SBY dan JK. Namun, itu pun tak mudah. Mega bersama PDIP harus menerima kenyataan perolehan suaranya di pemilu legislatif anjlok serta berjuang keras mendapatkan mitra koalisi agar bisa ikut bertarung di Pilpres 2009.

Jalan terjal bagi Mega tak hanya ada di jalur politik. Dalam hal pendidikan Mega juga terbilang kurang sukses. Pendidikannya di Fakultas Pertanian Unpad Bandung (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972) tidak sampai diselesaikannya. Beruntung dia masih sempat berproses di GMNI.

Di wilayah lain, kehidupan rumah tangga Mega pun berantakan sepeninggal sang suami yang wafat setelah pesawatnya jatuh di laut sekitar Biak, Irian Jaya. Waktu itu usia Mega masih awal dua puluhan dengan dua anak yang masih kecil.

Kegagalan dalam biduk rumah tangga kembali dialami Mega, ia sempat menjalin kasih dengan seorang pria asal Mesir, tetapi pernikahannya tak berlangsung lama. Kebahagiaan dan kedamaian hidup rumah tangganya baru dirasakan setelah ia menikah dengan Moh Taufiq Kiemas, rekannya sesama aktivis di GMNI dulu.

(ful)

Cari Berita

Profile

Megawati Prabowo SBY Boediono JK Wiranto